Latar Belakang

Pengembangan Dashboard Potensi Investasi Sektor Air Minum dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya informasi mengenai proyek-proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), sehingga calon investor kesulitan mengidentifikasi BUMD Air Minum yang potensial untuk dikembangkan. Dashboard ini menyajikan data kinerja BUMD Air Minum di Indonesia secara praktis, transparan, dan terstandar.

Melalui kriteria penyaringan potensi investasi—seperti tarif, konsumsi rata-rata, Non-Revenue Water (NRW), cakupan pelayanan, kapasitas terpasang, idle capacity, hingga aspek kelayakan keuangan (creditworthiness)—dashboard ini memberikan gambaran komprehensif mengenai peluang investasi yang dapat diakses oleh calon investor maupun masyarakat umum.

Visi & Misi

Visi: Menjadi platform strategis yang mendorong minat investasi di sektor air minum melalui penyediaan informasi kinerja BUMD Air Minum yang transparan, terukur, dan terpercaya.

Misi:

  • 1. Menyediakan informasi kinerja BUMD Air Minum secara praktis, transparan, dan mudah diakses.
  • 2. Menghadirkan kriteria penyaringan potensi investasi yang terukur dan relevan.
  • 3. Mendukung calon investor dalam mengidentifikasi peluang proyek SPAM yang potensial.
  • 4. Meningkatkan keterbukaan data bagi masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas sektor air minum.

Kriteria Screening Potensi Investasi

Kriteria screening potensi investasi membantu menilai kesiapan BUMD Air Minum dari aspek operasional, keuangan, dan tata kelola. Beberapa penjelasan kriteria screening yang dipakai dalam penilaian potensi Proyek

No. Usulan Kriteria Potensi Referensi Rumus / Data Deskripsi
1 Persentase Tarif – FCR > 100% Pendapatan
────────── × 100%
Biaya Operasi
  • FCR > 100% berarti tarif air yang diterapkan sudah mampu menutup seluruh biaya operasional. Semakin besar nilainya, semakin baik kemampuan keuangan BUMD Air MInum.

  • FCR juga berarti BUMD Air Minum dapat menjaga arus kas dan menunjukkan financial viability.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Penurunan NRW karena keuangan BUMD sudah cukup baik dan tidak membebani kas operasional secara berlebih.
  • 2 NRW > 33% Nilai Kehilangan NRW Distribusi
  • Kriteria ini menggambarkan tingkat NRW tinggi (baik kebocoran fisik maupun komersial). Semakin besar nilainya, semakin buruk kinerja efisiensi. Nilai rata-rata NRW nasional tahun 2023 adalah 33,49%.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Penurunan NRW karena dapat memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan efisiensi produksi.
  • 3 Cakupan Pelayanan < 70% Jumlah Penduduk Terlayani (Jiwa)
    ────────────── × 100%
    Jumlah Penduduk di Wilayah Pelayanan (Jiwa)
  • Menunjukkan adanya unserved population, sehingga ada market opportunity untuk ekspansi pelanggan. Semakin kecil nilainya, semakin buruk kinerja layanannya.

  • Rendahnya cakupan seringkali disebabkan kurangnya kapasitas produksi, sehingga terdapat potensi investasi pada jaringan dan sambungan rumah.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Peningkatan Kapasitas Produksi dan Optimalisasi Idle Capacity karena masih banyak calon pelanggan yang belum terlayani dan idle capacity dapat dioptimalkan melalui perluasan jaringan dan penambahan SR.
  • 4 Rata-Rata Pemakaian Air > 16m3/Bulan Total Pemakaian Air
    ──────────────
    Jumlah Bulan
  • Menunjukkan tingkat konsumsi yang relatif tinggi—makin besar nilainya, makin baik karena mencerminkan permintaan air yang kuat dan utilisasi sistem distribusi yang optimal.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Peningkatan Kapasitas Produksi karena tingginya tingkat konsumsi menandakan kebutuhan air mendekati batas kapasitas eksisting dan diperlukan tambahan kapasitas agar kontinuitas terjaga.
  • 5 Idle Capacity > 25% Kapasitas tidak terpasang (liter per detik)
  • Mengindikasikan adanya inefisiensi dan kapasitas produksi air bersih yang tersedia belum termanfaatkan optimal. Makin besar nilainya, makin buruk efisiensi pemanfaatan aset.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Optimalisasi Idle Capacity karena menunjukkan adanya kapasitas produksi yang siap dimanfaatkan melalui perluasan jaringan distribusi.
  • 6 Existing Capacity < 500 lps Kapasitas terpasang (liter per detik)
  • Menunjukkan skala kapasitas masih kecil hingga menengah. Sebaliknya, makin besar kapasitas, makin baik karena biaya produksi per unit cenderung lebih rendah (economies of scale).

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Peningkatan Kapasitas Produksi karena sistem berskala kecil umumnya sudah beroperasi mendekati batas produksinya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, sehingga diperlukan tambahan kapasitas agar kontinuitas.
  • 7 Rasio Pegawai (SDM) <6 Orang (Kota) - <8 Orang (Kabupaten) Jumlah Pegawai
    ──────────────
    Jumlah Pelanggan Aktif/1.000
  • Semakin kecil rasio semakin baik, yang berarti pemakaian tenaga kerja yang efisien untuk melayani pelanggan dan biaya operasional relatif rendah.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Penurunan NRW karena efisiensi SDM yang baik menandakan kapasitas internal operator cukup kuat untuk pekerjaan teknis, sehingga tidak memerlukan penambahan pegawai yang besar.
  • 8 Cakupan Layanan > 70% Jumlah Penduduk Terlayani (Jiwa)
    ──────────────× 100%
    Jumlah Penduduk di Wilayah Pelayanan (Jiwa)
  • Menunjukkan sebagian besar penduduk di wilayah pelayanan sudah terlayani. Makin besar nilainya, makin baik, karena mencerminkan tingkat akses dan kinerja pelayanan yang tinggi.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Penurunan NRW karena dengan wilayah pelayanan yang luas dan jaringan distribusi yang kompleks, potensi kehilangan air lebih besar, sehingga penurunan NRW akan memberikan dampak efisiensi.
  • 9 NRW < 25% Nilai Kehilangan NRW Distribusi
  • Kriteria ini menggambarkan tingkat NRW optimal untuk peningkatan kapasitas-makin kecil nilainya makin baik (target NRW berdasarkan RPJMN sebesar < 25%).

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Peningkatan Kapasitas Produksi karena sistem distribusi sudah efisien sehingga tambahan investasi sebaiknya difokuskan pada peningkatan volume produksi.
  • 10 Pertumbuhan Pelanggan > 10% Jumlah Pelanggan Aktif Periode Ini - Jumlah Pelanggan Periode Lalu
    ──────────────x 100%
    Jumlah Pelanggan Periode Lalu
  • Pertambahan pelanggan berarti permintaan tinggi, terdapat potensi penambahan revenue, cashflow proyek meyakinkan. Semakin tinggi nilainya semakin baik karena menandakan pasar yang sedang tumbuh.

  • Kriteria ini direkomendasikan untuk lingkup kerja sama Peningkatan Kapasitas Produksi karena lonjakan jumlah pelanggan berpotensi melebihi kapasitas produksi eksisting, sehingga diperlukan investasi untuk menambah kapasitas.
  • 11 Creditworthiness Menggunakan parameter creditworthiness yang menghasilkan kategori:
  • Eligible for Borrowing (paling baik)
  • Highly Speculative (menengah)
  • Highly Default Risk (kurang baik)
  • Kriteria ini hanya relevan untuk menggambarkan kemampuan dan kelayakan finansial BUMD Air Minum untuk memperoleh dan mengembalikan pinjaman perbankan. Semakin tinggi tingkat creditworthiness, makin besar peluang BUMD mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan.

  • Creditworthiness bukan kriteria utama untuk menilai potensi kerja sama melalui skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) maupun B-to-B, karena Creditworthiness hanya melihat kondisi keuangan, sementara KPBU dan B-to-B lebih menekankan pada kelayakan dan struktur proyek.
  • Rekomendasi Lingkup Kerja Sama

    Berikut adalah rekomendasi lingkup kerja sama yang dapat dipertimbangkan oleh calon investor:

    Penurunan Non-Revenue Water Peningkatan Kapasitas Produksi Optimalisasi Idle Capacity
    Lingkup Proyek
    New/improvement DMA
    ☐ Rehabilitasi Pipa Transmisi-distribusi
    ☐ Rehabilitasi reservoir dan jaringan distribusi
    ☐ Pemeliharaan kebocoran


    Bentuk Kontrak:
    ☐ Kontrak Berbasis Kinerja (KBK)
    ☐ DBO untuk upgrade jaringan

    Skema Pengembalian:
    ☐ Skema KBK
    Fix Payment dan variable payment


    Rekomendasi Kriteria Penyaringan:
    ☐ NRW > 33%
    ☐ Persentase Tarif FCR > 100%
    ☐ Rasio Pegawai ≤ 6 orang (kota); ≤ 8 orang (kabupaten)
    ☐ Cakupan Layanan > 70%

    Lingkup Proyek
    ☐ Penambahan Kapasitas Baru
    ☐ Pembangunan intake dan pompa baru
    ☐ WTP uprate
    ☐ Pemasangan pipa Transmisi produksi
    ☐ Peningkatan kapasitas reservoir

    Bentuk Kontrak:
    ☐ DBFOM
    ☐ DB

    Skema Pengembalian:
    ☐ AP (user charge dengan take or pay)



    Rekomendasi Kriteria Penyaringan:
    ☐ Cakupan Layanan < 70%
    Existing Capacity > 500 lps
    ☐ NRW < 25%
    ☐ Pertumbuhan Pelanggan ≥ 10%

    Lingkup Proyek
    ☐ Optimalisasi pipa utama (jaringan distribusi)
    Reservoir
    ☐ Sambungan baru
    ☐ Optimalisasi kapasitas WTP yang belum terserap
    ☐ Integrasi teknologi monitoring supply-demand

    Bentuk Kontrak:
    Business-to-Business (B2B)
    ☐ JO / KSO untuk daerah layanan tertentu
    ☐ DB

    Skema Pengembalian:
    ☐ Skema KBK
    Fix Payment
    Installment

    Rekomendasi Kriteria Penyaringan
    Idle Capacity > 10%
    ☐ Cakupan Layanan < 70%

    Referensi

    No Fokus Utama Jenis Data yang Tersedia Kriteria yang Memakai Referensi
    1 RPJMN 1. NRW Rata-Rata Nasional
    2. Cakupan layanan Rata-Rata Nasional
    3. Kontinuitas pelayanan air
  • NRW
  • Cakupan layanan
  • 2 Buku Kinerja BUMD Air Minum 1. Return on Equity (ROE)
    2. Rasio Operasi
    3. Rasio Kas
    4. Efektivitas Penagihan
    5. Solvabilitas
    6. Rasio Pegawai
    7. Rasio Diklat Pegawai
    8. Beban Diklat Pegawai
    9. Efisiensi Produksi
    10. NRW
    11. Jam Operasi Layanan
    12. Tekanan Air pada Sambungan
    13. Penggantian Meter Pelanggan
    14. Cakupan Layanan Teknis
    15. Pertumbuhan Pelanggan
    16. Tingkat Penyelesaian Pengaduan
    17. Kualitas Air Pelanggan
    18. Konsumsi Air Domestik
  • Rasio Pegawai
  • NRW
  • Cakupan Layanan
  • Pertumbuhan Pelanggan
  • Konsumsi Air
  • 3 World Bank – International Benchmarking Network for Water and Sanitation (IBNET) 1. Drinking Water Coverage
    2. Continuity of Supply
    3. Percentage with Supply 24 hours/day, 7 days/week
    4. Non-Revenue Water (%)
    5. Non-Revenue Water (liters/Connections/hr)
    6. Sanitation Coverage (%)
    7. Sewer Blockages (per 100 km of sewer)
    8. Wastewater Collected and Treated (%)
    9. Revenue Collection (%)
    10. Percentage of Metered Connections (%)
    11. Service Complaints Resolved (%)
    12. Drinking Water Quality
    13. Operation Cost Coverage
    14. Number of Employees per 1,000 Connections
    15. Percentage of Female Employees
  • Cakupan Layanan
  • NRW
  • Rasio Pegawai
  • 4 Asian Development Bank: Indonesia Water Supply and Sanitation Project – Project Preparation Technical Assistance Benchmarking indikator output penyediaan air minum
  • Cakupan Layanan
  • Existing Capacity
  • Idle Capacity
  • Presentase Tarif
  • NRW
  • Rasio Pegawai
  • 5 IUWASH Plus’ Creditworthiness Ladder (CWL) 28 kriteria Creditworthiness
  • Presentase Tarif
  • FCR
  • NRW
  • Kapasitas Kredit
  • Existing Capacity
  • Idle Capacity
  • Bantuan

    Panduan Penggunaan

    Berikut adalah panduan penggunaan sistem kami:

    1. Login ke dalam sistem dengan akun resmi Anda.
    2. Navigasi melalui menu yang tersedia di dashboard.
    3. Gunakan fitur pencarian untuk menemukan data atau dokumen.
    4. Ikuti langkah-langkah yang diberikan pada setiap halaman fitur.
    Unduh Panduan Lengkap

    Kontak & Bantuan

    Jika Anda memerlukan bantuan lebih lanjut, silakan hubungi tim dukungan kami:

    Kontak Dukungan